<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1303517511300177940</id><updated>2012-01-06T18:21:19.996-08:00</updated><title type='text'>Lawan Imperialisme...!</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://wawansolehan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1303517511300177940/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wawansolehan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>wans</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08225970426867498290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DBJ14M5Jho/SRYbxKU_bDI/AAAAAAAAARU/-APiMqpWs_U/S220/bb.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1303517511300177940.post-3408951952150412030</id><published>2009-10-10T03:10:00.000-07:00</published><updated>2010-11-08T04:14:39.656-08:00</updated><title type='text'>Mencari ’Biduk’ di Sungai Komering</title><content type='html'>Oleh ERWAN SURYANEGARA &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.beritamusi.com/kolom/2009-07/mencari-biduk-di-sungai-komering/"&gt;sumber artikel &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“DI unggak ijan nyak tipoguk, jolma Kumoring busumbah rik hati susah, bak api niku biduk mak ulah lagi liu, sanipa biduk ga liu basa batanghari di liba wayna tinggal cutik…Dang sapona, dang sapona, liak akibatna way batanghari sikam jadi langok” (Di atas tangga aku termenung, orang Komering berkata dengan hati susah, mengapa engkau perahu tidak pernah lagi lewat, bagaimana perahu mau lewat kalau sungai di hilir airnya tinggal sedikit…Jangan begitu, jangan begitu, lihat akibatnya air sungai kami menjadi surut mengering). Demikian, kira-kira makna dari sepenggal ‘plesetan’ lagu Komering yang berjudul Di Unggak Ijan. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Secara umum tampaknya masyarakat Komering seolah sudah terhipnotis oleh sebangsa dewa memabukkan yang bernama ‘pembangunan’, sehingga semua diam dan terbungkam ketika dibangun upper Komering di daerah Perjaya – Buay Madang, guna meninggikan air sungai Komering agar sebagian besar aliran airnya bisa dialihkan ke wilayah Belitang. &lt;br /&gt;Konsep pembangunan upper Komering katanya untuk mengendalikan luapan Sungai Komering di saat datang musim hujan, dan sekaligus guna lebih mendorong produktivitas pertanian khususnya beras, di daerah Belitang. Dengan kata lain, disebutkan pula itu sebagai upaya untuk lebih meningkatkan pendapatan petani penggarap guna perbaikan tarap hidup (terutama materi). Sebelumnya, wilayah tersebut memang sudah dikenal sebagai salah satu sentra atau daerah pemasok beras bagi Sumatra Selatan bahkan nasional. &lt;br /&gt;Faktanya, di pengujung 2008 lalu, banjir tetap saja menggenangi 10 dusun (desa) di OKU Timur, setelah wilayah Sumsel diguyur hujan lebih kurang sepekan. Menurut Kompas, Rabu (17 Desember 2008), “Sebanyak 1.598 hektar lahan sawah di wilayah Sumatera Selatan tergenang banjir selama sekitar 5-8 hari akibat meluapnya sejumlah sungai besar. Wilayah yang paling parah terkena banjir berada di Kabupaten OKU Timur. Genangan air sawah di kawasan ini disebabkan oleh meluapnya Sungai Komering yang kemudian merembet di saluran irigasi.” &lt;br /&gt;Menampik perihal banjir di OKU Timur, peningkatan produksi beras di daerah ini memang tercapai dan surplus, seperti yang dicita-citakan. Sang Gubernur dan Bupati pun, telah bolak-balik Palembang-Jakarta guna menerima penghargaan nasional bidang pangan. Namun, untuk peningkatan tarap hidup petani penggarap seperti yang juga ikut didengungkan selama ini relatif sangat sulit untuk dapat diukur tingkat keberhasilan atau ketepatan sasarannya. Terutama bagi masyarakat di sebelah hilir proyek upper Komering, dengan surplus beras di wilayah Belitang, adakah mereka turut merasakan dampak untungnya? &lt;br /&gt;Dengan memejamkan mata, pembangunan upper Komering memang bisa dikatakan relatif mencapai tujuannya. Tetapi, kenyataannya mata ini tidak dapat dipejamkan terus-menerus, apalagi dengan telinga yang memang tidak ditutupi. Keluhan demi keluhan, gerutu, ocehan, bahkan kini semakin banyak warga Komering yang mulai menyumpah serapah atas dampak negatif yang ditimbulkan setelah dibangunnya upper Komering tersebut saat musim kemarau, terutama bagi dusun-dusun atau masyarakat yang bermukim di sebelah hilir dari dusun Perjaya. &lt;br /&gt;Sudah sejak lama Sungai Komering dikenal dengan airnya yang mengalir secara anggun dan tenang, sembari dari hari ke hari dengan setia ia selalu memenuhi janji, guna mengairi petak-petak huma serta kobun-kobun tradisional masyarakatnya. Kini, sawah-sawah tadah hujan juga kebun-kebun itu semakin sulit untuk produktif, terutama jika datang musim kemarau dan atau sejak air Sungai Komering dialihkan alirannya. &lt;br /&gt;Pematang-pematang sawah dan kebun itu kini telah kesepian dan menjadi semak-belukar serta dipenuhi oleh rumput ilalang, karena sudah ditinggalkan petani penggarap atau pemilik. Sehingga, sekarang tidak mungkin lagi dapat melihat umak, niay, dan atau tan adik yang sedang berjalan meniti pematang-pematang sawah guna mengantarkan makan siang buat ubak dan kiay, seperti ketika mereka dulu masih bisa menggarap huma dan atau kebunnya. &lt;br /&gt;Sejak dulu masyarakat Komering seperti umumnya masyarakat Nusantara yang tinggal di tepian sungai, juga menjadikan Sungai Komering sebagai sarana mandi, cuci, kakus (MCK). Namun, dengan siklus dan proses yang berlangsung secara alamiah, air Sungai Komering termasuk ikannya terbukti tetap aman dan terus dapat dikonsumsi oleh hulun Kumoring secara turun-temurun, hingga hari ini. &lt;br /&gt;Di Sungai Komering memang hidup berbagai jenis iwak (ikan), seperti: hindik, haruan, patin, lampam, kopor, saluang, balida, tauman, kapiak, juga hurang serta yang lainnya. Mungkin, sejak berabad lalu ikan-ikan itu dapat hidup beranak pinak dari hulu hingga ke hilir Sungai Komering, atau mereka dapat melangsungkan siklus kehidupan alaminya secara berkesinambungan, termasuk dipanggang, dipindang, dan atau digulai oleh akas, ombai, dan ompu-ompu atau para keturunannya di sepanjang aliran Sungai Komering. &lt;br /&gt;Tidak mengherankan bila banyak orang Komering dengan biduk-biduknya, akan melintas hilir-mudik di atas Sungai Komering dalam rangka melakukan aktivitas keseharian mereka, seperti: ngajala, ngawil, anjaring, dan atau ngabubu, guna mendapatkan ikan sekadar untuk disantap bersama keluarga. &lt;br /&gt;Demikian pula ketika musim panen buah durian atau duku Komering tiba, masyarakat Komering juga ada yang menggunakan sarana biduk dan atau rakik (rakit), tiliba (menghilir ke Palembang) dengan menelusuri aliran Sungai Komering, guna mengekspor hasil panenan, antara lain duku, durian, limau, dan punti (pisang). Lalu, buah-buah itu dijual di Palembang. &lt;br /&gt;Performance aliran Sungai Komering yang tenang, karena membawa atau di dasar sungai mengandung banyak pasir, yang bisa ditambang masyarakat dan digunakan sebagai campuran semen, misalnya bila mereka ingin memperbaiki rumah panggung yang kebetulan sudah mulai lapuk termakan usia. &lt;br /&gt;Sungai Komering yang semula besar dan menjadi sumber kehidupan utama jolma Kumoring itu, kini dengan upper Komering terutama di musim kemarau sudah tidak ubahnya dengan air siring alias selokan, yang mengalir kecil membelah hamparan pasir di dasar Sungai Komering, berkelok dan meliuk di antara lubang-lubang kecil sebagai sumur-sumur pasir, yang digali masyarakat supaya bisa mendapatkan air… Ironis! &lt;br /&gt;Kondisi tersebut dalam kesehariannya mungkin akan membuat balita, anak-anak, dan remaja Komering terutama di sebelah hilir, mulai tercerabut dari tradisi leluhurnya. Mereka menjadi seperti orang asing di-tiuh-nya sendiri. Mahmud, Hindun, Midah, Jumahad, dan banyak lagi pemuda Komering lain kini telah mulai kehilangan biduk-biduk termasuk suhar buntak dan suhar tojang (dayung ukuran pendek dan panjang) milik akas-nya. &lt;br /&gt;Generasi muda Komering dengan sendirinya akan mulai jarang menggunakan atau menuturkan kosa-kosa kata daerahnya, seperti bulangui (berenang), nyolom (menyelam), bubiduk di way doros (berperahu di air deras), ambubu atau ngabubu (memperangkap ikan), dan lain sebagainya. Aktivitas keseharian dari hidup dan kehidupan masyarakat di sekitar tepian Sungai Komering, pelan namun pasti dengan sendirinya akan berubah, khususnya pada dusun-dusun di sebelah hilir dusun Perjaya. &lt;br /&gt;Kini, pemandangan dengan biduk-biduk yang disuhar atau melaju hilir mudik, baik pagi, siang, maupun sore hari di atas sungai Komering bagian hilir telah menghilang seiring dengan keberadaan upper Komering. Sekarang, biduk-biduk itu tidak dapat lagi bergoyang seolah-olah menari mengikuti irama riak kecil arus sungai Komering, ketika ia ditambatkan di tepian sungai. Kini, keberadaan biduk-biduk itu telah berpindah tempat dan seolah-olah tertidur lelap menelungkup di bawah rumah-rumah panggung milik masyarakat. &lt;br /&gt;Serombongan mouli rik maranai (gadis dan bujang) di beberapa dusun pun resah, karena belakangan ini mereka sudah tidak mungkin lagi dapat membuat janji bila ada acara ningkuk (acara bujang – gadis), guna berekreasi atau bersenda-gurau bersama dengan bubiduk di way doros. Juga, tan niay rik tan adik (ayuk dan adik) tentulah tidak dapat lagi mohpoh (mencuci pakaian) dan atau ngalimbang bias (mencuci beras) di batanghari. Dengan kata lain, mulai hilanglah tradisi “pangkalan” (aktivitas masyarakat di tepian Sungai Komering). &lt;br /&gt;Tidak lama lagi, Pak Barob, Pak Lunok, Kamaman, Pak Balak, Pak Tongah, Pak Nik, dan Pak Uncit atau Pak Ungsu (para uwak dan paman) akan bersiap-siap kehilangan biduk, karena lambat laun namun pasti ratusan bahkan ribuan rayap telah siap bersarang sambil menggerayangi dan menggerogoti sedikit demi sedikit biduk-biduk milik mereka. &lt;br /&gt;Sempat ada wacana dari pihak terkait untuk mengeruk hamparan pasir di dasar Sungai Komering yang telah tidak berair itu. Tetapi pertanyaannya. akankah itu mengatasi persoalan yang ada, atau motivasinya lagi-lagi masih dan hanya sekadar proyek belaka? Sebab, perilaku perusakan alam dengan pengalihan aliran air sungai dan rencana pengerukan pasirnya itu jelas menunjukkan kerja sporadis belaka. &lt;br /&gt;Kini, tanpa disadari dampak negatif dari upper Komering itu lambat laun mulai mengebiri dan akan terus berperan dalam pemiskinan atau bahkan pemusnahan bagian-bagian tertentu dari budaya Komering, termasuk pula tentunya akan memutuskan mata rantai dan kelestarian habitat dari biota-biota yang selama ini hidup dan ada di Sungai Komering bagian hilir dari upper Komering. &lt;br /&gt;Banyak orang yang telah meng-claim eksistensi upper Komering sebagai suatu prestasi dalam pembangunan di wilayah ini, khususnya bidang pertanian dan pengairan. Katanya, proyek ini memang telah melibatkan para konsultan ahli yang berasal dari institut ternama di negeri ini. Tragis…Kang! &lt;br /&gt;Untuk membuktikannya, mungkin perlu diujicobakan kepada para konsultan ahli itu sendiri. Mereka harus merasakan hasil analisis atau karyanya itu, dengan cara mencoba tinggal (menetap) dalam tempo seminggu – sebulan saat musim kemarau berlangsung di salah satu dusun, misalnya di Betung, Menanga, Adumanis, Kangkung, Suka Negeri, Ulak Baru, Gunung Jati, Kuripan, Campang Tiga, Cempaka atau beberapa dusun lain. &lt;br /&gt;Maranai rik mouli Kumoring susah di lom hati (bujang dan gadis Komering susah di dalam hati), mereka mengkhawatirkan nasib yang menimpa Sungai Komering saat ini, bukan tidak mungkin akan dialami juga oleh dulur-nya, seperti Sungai Rawas, Lematang, Ogan, Batanghari, Kampar, Kapuas, Barito. Atau yang lain. &lt;br /&gt;Berikut plesetan syair dari lagu Ombai Akas: “Ombai rik akas, ombai rik akas, sikam kok mak haga lagi mulang guk tiuh, bak sikam mouli rik maranai kok mak pacak ngaliak lagi biduk liba-hulu di tiuh, ombai dipa biduk akas…umak dipa biduk ubak?” (Nenek dan kakek, nenek dan kakek, kami sudak tidak mau lagi pulang ke dusun, sebab kami gadis dan bujang sudah tidak bisa lagi melihat perahu hilir-mudik di dusun, nenek di mana perahu kakek…ibu di mana perahu bapak?).[*] &lt;br /&gt;*) Perupa dan Pemerhati Kebudayaan Sumsel, tinggal di Kalidoni – Palembang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1303517511300177940-3408951952150412030?l=wawansolehan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wawansolehan.blogspot.com/feeds/3408951952150412030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wawansolehan.blogspot.com/2009/10/mencari-biduk-di-sungai-komering.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1303517511300177940/posts/default/3408951952150412030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1303517511300177940/posts/default/3408951952150412030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wawansolehan.blogspot.com/2009/10/mencari-biduk-di-sungai-komering.html' title='Mencari ’Biduk’ di Sungai Komering'/><author><name>wans</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08225970426867498290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DBJ14M5Jho/SRYbxKU_bDI/AAAAAAAAARU/-APiMqpWs_U/S220/bb.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1303517511300177940.post-8524183183949733782</id><published>2008-08-30T04:35:00.000-07:00</published><updated>2010-11-08T04:15:17.542-08:00</updated><title type='text'>Kebebasan Akademik, Berpendapat dan Berorganisasi Masih Dikekang.</title><content type='html'>Problem lain yang dihadapi dalam sistem pendidikan di Indonesia adalah tentang kebebasan akademik dan kebebasan berorganisasi yang masih dikekang.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; Kebebasan akademik sebagai tradisi ilmiah yang harus terus dikembangkan, ternyata masih jauh dari harapan. Dalam peraturan pemerintah No 60/1999 tentang Perguruan Tinggi, kebebasan akademik hanya boleh dikembangkan oleh dosen dan guru besar. Pernah anggota FMN dari HKBP Nomansen University Medan melakukan penelitian tentang psikologi buruh akibat hubungan industrial yang ada, hasil penelitian ditolak dengan alasan akan membuat perusahaan merugi karena akan membangkitkan kesadaran buruh untuk melawan perusahaan. Seringkali ditemukan, mahasiswa-mahasiswa yang kritis di kelas, selalu diancam mendapatkan nilai jelek.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pihak dosen atau guru besar selalu menutup diri untuk perdebatan terbuka untuk hal-hal kritis yang dinilai tidak sesuai dengan teori yang dipelajari. Aliran positifisme ilmu sangat kental di kalangan akademisi di Indonesia yang menyekat ilmu dalam kajian-kajian sempit semata. Kampus juga semakin tertutup dari kajian-kajian ilmiah tentang realitas masyarakat Indonesia.Kajian-kajian tentang nasib buruh, kaum tani atau rakyat Indonesia secara umum secara eksplisit dilarang di kampus.  Sementara kebebasan berpendapat dan berorganisasi di kampus masih mendapatkan kekangan. Mayoritas kampus saat ini membuat perjanjian bagi presensi sebesar 75 persen untuk persyaratan nilai, sehingg membatasi aktifitas mahasiswa di luar kelas. Aksi-aksi kampus yang dilakukan juga sering mendapatkan represi. Pamflet-pamflet kritis di kampus sering disobek. Bahkan ada mahasiswa yang diskorsing dan dikeluarkan drop out akibat mengkritisi kampus, ini pernah dialami oleh 4 anggota FMN di kampus STAIBU Jombang tahun 2004 dan 3 mahasiswa ITS akibat mendemo ITS karena mendukung operasi PT Lapindo Brantas Inc, yang telah mengakibatkan banjir lumpur di Porong Sidoarjo. Kebebasan berorganisasi di kampus juga turut dikekang. Pemerintah hanya mengakui keberadaan organisasi intra kampus yang memang selalu menjadi alat kepentingan pemerintah untuk meredam kesadaran politik mahasiswa. Ormas-ormas mahasiswa yang sering disebut juga organisasi ekstra seperti FMN dilarang kehadirannya di kampus. Untuk ini, pemerintah telah menerapkan SK Dirjen Dikti 26 Tentang Pelarangan organisasi ekstra di kampus. Ketika ormas-ormas ini mengadakan kegiatan di kampus harus mendapatkan izin bahkan membayar untuk menggunakan fasilitas kampus yang ada. Di beberapa kampus FMN bahkan dilarang secara resmi, dengan berbagai alasan. Tetapi sesungguhnya, larangan itu karena FMN konsisten memperjuangkan kepentingan mahasiswa. calon mahasiswa dalam brosur penerimaan, bahwa jika dia diterima harus mengikuti segala peraturan kampus, pembayaran dan melarang untuk terlibat dalam demonstrasi. Kampus juga memberlakukan kebijakan pengetatan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1303517511300177940-8524183183949733782?l=wawansolehan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wawansolehan.blogspot.com/feeds/8524183183949733782/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wawansolehan.blogspot.com/2008/08/kebebasan-akademik-berpendapat-dan.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1303517511300177940/posts/default/8524183183949733782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1303517511300177940/posts/default/8524183183949733782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wawansolehan.blogspot.com/2008/08/kebebasan-akademik-berpendapat-dan.html' title='Kebebasan Akademik, Berpendapat dan Berorganisasi Masih Dikekang.'/><author><name>wans</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08225970426867498290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DBJ14M5Jho/SRYbxKU_bDI/AAAAAAAAARU/-APiMqpWs_U/S220/bb.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1303517511300177940.post-2965943479726971042</id><published>2008-08-30T04:05:00.000-07:00</published><updated>2010-11-08T04:15:44.730-08:00</updated><title type='text'>UIN BUKAN LAGI KAMPUS RAKYAT</title><content type='html'>kampus adalah tempat dimana mahasiswa menjalankan tugas utamanya menuntut ilmu pengetahuan, sebagai unsure mayoritas sudah sepantasnyalah  untuk didengarkan. Sudah sewajarnya sebagai unsure mayorita dan sumber dana bagi kampus untuk mendapatkan layanan pendidikan yang layak.  Tapi saat ini kampus adalah sebuah potret nyata dari bobroknya system pendidikan di Indonesia.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nyata saat ini dengan apa yang terjadi di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dimulai dari mahalnya biaya kuliah, fasilitas yang tidak memadai dan tidak fingsional seperti godam kusuka Maupun Gedung yang senyata-nyata dananya dari mahasiswa Tapi kok harus bayaruntuk menggunakannya, pintu gerbang yang ditutup, WC mampet dan bau disalah satu fakultas dan lain-lain. Layanan administrasi yang buruk dan berbelit-belit,ancaman terhadap kebebasan berpendapat, hinga praturan-peraturan yang tentu saja selalu memberatkan mahasiswa yang tidak akan pernah berpihak pada mahasiswa, dan mahasiswa tidak pernah diajarkan untuk mengilmiahkan ilmu yang didapatkan masih menjadi realitas kongkrit di kampus UIN Sunan Kalijaga.&lt;br /&gt;Segudang persoalan di kampus ini, tidak terlepas dari apa yang disebut dengan privatisasi pendidikan tinggi khususnya. Hari ini seluruh perguruan tinggi didorong untuk brdiri secara otonomi atau disebut otonomi kampus dengan dalih untuk efesiensi dan peningkatan pendidikan di Indonesia, dimana secara hokum hal ini diperkuat dingan Undang-Undang Sisdiknas No 23 tahun 2003, keluarnya PP No 60, 61 tentang pendidikan tinggi yang haru memeliki badan hukum, hingga  hal ini ditindak lanjuti  denga pem-BHMN-an perguruan tinggi negeri ternama. Dan juga dengan akan disahkannya  Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP) semakin melegalkan kampus untuk mengeruk keuntungan dengan mengobankan mahasiswa sebagai sapi perahannya, dan kampus semakin ditegaskan sebagai “lembaga dagang “ berlabel jasa pendidikan. Rejim SBY-JK yang berkuasa saat ini semakin menunjukkan dirinya anti rakyat dan pendidikan pun hanya dianak tirikan sehingga semakin jelas mereka hanya akan menjilat bokong tuan imperialisnya . terbukti janji nya tidak ditipati guna merealisasikan anggaran 20% untuk pendidikan dari APBD dan APBN. Tahun 2007 saja untuk pendidikan hanya mendapatka anggaran sebesar11,8%. Sebaliknya, Negara mendorong masyarakat untuk membiayai pendidikan yang setiap tahu akan terus naik dan naik., lantas dimana tanggung jawab Negara? Nyata didepan mata kita dampak dari kebijakan yang dibuat oleh pemerintah kita, dampaknyapun nyata. Di UIN sunan Kalijaga dimulai angkatan 2005 dengan  pemberlakuan Dana Penunjang Pendidikan (DPP) dan angkatan 2006 Biaya SPP naik 100%.belum lagi dana dana yang tidak jelas arahnya. Kampus UIN dulu dikenal sebagai kampus rakyat, kampus yang selalu menjadi kebanggaan bagi klas buruh dan kaum tani untuk meng-kuliah-kan anaknya karma masih bias dijangkau biaya kuliahnya, tapi sekarang sudah jauh dari untuk dikatakan sebagai kampus rakyat.Biaya kuliah setiap tahu akan mengalami kenaikan, sedangkan  pendapatan rakyat kecil saja belum tentu mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan belumtentu mengalami penambahan laba ataupun kenaika. Tahun 2007 saja oendapatan rat-rata penduduk Indonesia hanya 2 dolar, bagimana  seorang anak buruh, buruh tani, tani miskin atau rakyat miskin perkotaan akan menikmati bangku kuliahyang setiap tahunnya mengalami kenaikan.Mahalnya biaya pendidikan di UIN berupa SPP yang juga diiringi dengan berbagai problem lainnya seperti berbagai pungutan lainnya yang berlabel DPP, dana PKL, dana KKN, dana skripsi sampai pungli-pungliyang terkadang kit selaku mahasiswa yang sering mengaku kritis ataupun selalu ingin disebut sebagai kaum yang kritis tidak menyadari, dan juga masih terdapat berbagai upaya untuk menarik keuntungan dengan fasilitas-fasiitas yang dikomersilkan sehinga mahasiwapun harus merogoh koceknya  bila ingin menggunakan fasilitas tersebut, seperti contohnya sewa gedung, dan sarana fasilitas yang lainnya.Biaya perkuliahan yang semakin mahal yang mengakibat kan sebagian mahasiswa tersita waktunya karma harus kerja membanting tulang bukan lah semata-mata atas keinginan tetapi atas keterpaksaan guna men cukupi kebutuhan kuliah dan kebutuhan hidup tentunya yang ketika lulius pun belum tentu bias mendapatkan pekerjaan yang layak dan sesuai harapan .Tapi parahnya sebagian dari kita sendiri kadang  tidak sadar akan hal tersebut, entah tidak tahu atau tidak mau tahu. Karna kita seakan dihipnotis dengan pembangunan gedung yang terlihat megah tersebut, tapi nyatanya peningkatan pembangunan tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas pendidikan,pendidikan yang bias kita nikmati hanya sebatas bualan yang bila kita terjun kemasyarakat a[akah benar-benar bias kita terapkan dan yang pasti kita hanya akan menambah antrian pengangguran. Dan dana yang digunakan pun adalah hutang yang selanjutnya mahasiwalah yang akan menjadi korbannya, akan terus diperas guna melunasi hutang tersebut dan itulah dosa turunan dan mahasiswalah yang harus menanggungnya. Saya tekankan mahasiswa bukanlah sapi perahan ,dosen bukan alat dan kampus bukanlah pabrik. Apakah kita hanya  terus diam dan akan terus  ditindas? Karna diam sama saja dengan meg-iakan  penindasan terus berlangsung dan akan lapuk dimakan sejarah. Atau kita tunjukkan bahwa kita tidak akan pernah diam selama penindasan terus berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1303517511300177940-2965943479726971042?l=wawansolehan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wawansolehan.blogspot.com/feeds/2965943479726971042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wawansolehan.blogspot.com/2008/08/kampus-adalah-tempat-dimana-mahasiswa.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1303517511300177940/posts/default/2965943479726971042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1303517511300177940/posts/default/2965943479726971042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wawansolehan.blogspot.com/2008/08/kampus-adalah-tempat-dimana-mahasiswa.html' title='UIN BUKAN LAGI KAMPUS RAKYAT'/><author><name>wans</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08225970426867498290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DBJ14M5Jho/SRYbxKU_bDI/AAAAAAAAARU/-APiMqpWs_U/S220/bb.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1303517511300177940.post-8001571550116553781</id><published>2008-08-15T14:48:00.000-07:00</published><updated>2008-08-30T15:39:19.770-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;left&gt;&lt;br /&gt;Kenapa hidup harus ada”cinta”&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa dunia harus semakin wah……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika neraka setia menanti&lt;br /&gt;Jika kelak Surga tak dijumpai&lt;br /&gt;ah.. surga juga kurasa ngga ada&lt;br /&gt;Ah…..percuma…..&lt;br /&gt;Ah…..persetan…..&lt;br /&gt;Ku ukir duniaku&lt;br /&gt;Dengan kehendak ku&lt;br /&gt;benarkah kalau kita sudah merdeka...?&lt;br /&gt;benarkah kita sudah terbebas dari penindasan...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sementara...&lt;br /&gt; perbudakan ...&lt;br /&gt; penghisapan....&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;     tetap berlangsung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;pendidikan???????(apa kabarnya)&lt;br /&gt;pemimpin hanya bisa bicara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surga!SURGA!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURGANYA MANA????????&lt;br /&gt;merdekanya mana,,,..?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/left&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1303517511300177940-8001571550116553781?l=wawansolehan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wawansolehan.blogspot.com/feeds/8001571550116553781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wawansolehan.blogspot.com/2008/08/kenapa-hidup-harus-adacinta-kenapa.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1303517511300177940/posts/default/8001571550116553781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1303517511300177940/posts/default/8001571550116553781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wawansolehan.blogspot.com/2008/08/kenapa-hidup-harus-adacinta-kenapa.html' title=''/><author><name>wans</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08225970426867498290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DBJ14M5Jho/SRYbxKU_bDI/AAAAAAAAARU/-APiMqpWs_U/S220/bb.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry></feed>
